JambiWatch – Perdebatan mengenai masa depan gerakan mahasiswa hari ini kerap berhenti pada satu kata kunci, rejuvenasi. Istilah ini seolah menjadi jawaban instan atas berbagai kegelisahan akan menurunnya militansi, melemahnya daya tekan, hingga pudarnya pengaruh gerakan dalam percaturan politik.

Namun, jika ditelisik lebih dalam, problem utama gerakan mahasiswa bukanlah soal kekurangan energi atau kehabisan kader. Problem yang jauh lebih mendasar adalah ketiadaan arah perjuangan yang jelas di tengah kompleksitas zaman. Dengan kata lain, yang kita hadapi bukan krisis vitalitas, melainkan krisis orientasi.

Narasi rejuvenasi menjadi problematik karena secara implisit mengasumsikan bahwa gerakan mahasiswa pernah kehilangan nyawa. Padahal, dalam kenyataannya, gerakan ini tidak pernah benar-benar mati. Ia tetap hadir dalam berbagai momentum seperti aksi jalanan, diskursus publik, hingga ruang-ruang digital. Namun kehadiran tersebut sering kali bersifat sporadis, reaktif, dan terfragmentasi. Gerakan memang hidup, tetapi tidak memiliki denyut yang terarah. Di sinilah urgensi untuk menggeser paradigma, dari sekadar pembaruan menuju reposisi gerakan.

Reposisi bukan sekadar istilah alternatif, melainkan sebuah kebutuhan historis. Ia lahir dari kesadaran bahwa konteks perjuangan mahasiswa hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan periode-periode sebelumnya. Gerakan tidak lagi berhadapan dengan satu wajah kekuasaan yang tunggal dan represif, melainkan dengan struktur yang cair, adaptif, dan sering kali menyerap kritik ke dalam dirinya. Dalam situasi seperti ini, pola gerakan lama tidak lagi memadai.

Gerakan mahasiswa hari ini berhadapan dengan setidaknya tiga lapisan kompleksitas. Pertama, disrupsi digital mengubah cara produksi dan distribusi wacana. Informasi bergerak cepat, isu silih berganti, dan perhatian publik menjadi sangat singkat. Akibatnya, gerakan mudah terjebak dalam aktivisme instan, bereaksi cepat terhadap isu, tetapi gagal membangun agenda jangka panjang.

Kedua, kooptasi kekuasaan yang semakin halus. Negara dan elit politik tidak lagi selalu menekan secara frontal, tetapi justru merangkul, mengakomodasi, bahkan memfasilitasi sebagian gerakan. Dalam kondisi ini, garis demarkasi antara gerakan dan kekuasaan menjadi kabur. Tanpa posisi ideologis yang tegas, gerakan berisiko kehilangan independensinya.

Ketiga, fragmentasi isu sosial membuat gerakan mahasiswa terpecah dalam berbagai kepentingan sektoral. Isu lingkungan, buruh, gender, pendidikan, hingga demokrasi sering berjalan sendiri-sendiri tanpas kerangka perjuangan yang terintegrasi.

Dalam menghadapi kompleksitas ini, rejuvenasi tidak cukup. Menyuntikkan energi baru tanpa arah yang jelas hanya akan memperbesar kegaduhan tanpa menghasilkan perubahan yang signifikan. Yang dibutuhkan adalah reposisi, sebuah langkah sadar untuk menentukan ulang posisi, peran, dan orientasi gerakan mahasiswa dalam struktur sosial-politik kontemporer.

Reposisi menuntut keberanian untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental, siapa yang diperjuangkan? Apa tujuan akhir dari gerakan ini? Dan melalui strategi apa tujuan tersebut dicapai? Sebab tanpa jawaban yang jelas, gerakan mahasiswa hanya akan menjadi reaktor isu, bukan aktor perubahan.

Dalam konteks ini, pemikiran Soekarno memberikan landasan ideologis yang kuat. Bung Karno sejak awal menekankan bahwa perjuangan harus memiliki arah ideologi yang tegas, bukan sekadar reaksi spontan terhadap keadaan. Baginya, revolusi adalah proses yang sadar, terarah, dan berpijak pada kepentingan rakyat.

Soekarno tidak pernah membayangkan gerakan sebagai entitas yang bergerak tanpa kompas. Ia justru menegaskan bahwa tanpa ideologi, gerakan akan mudah terombang-ambing oleh kepentingan sesaat dan kehilangan orientasi historisnya. Dalam kerangka ini, reposisi gerakan mahasiswa sejatinya adalah upaya untuk mengembalikan ideologi sebagai pusat gravitasi perjuangan.

Reposisi juga berarti menentukan kembali relasi gerakan dengan kekuasaan. Gerakan mahasiswa tidak bisa terus-menerus berada dalam romantisme oposisi tanpa strategi, tetapi juga tidak boleh larut dalam kooptasi yang menghilangkan daya kritis. Ia harus menemukan posisi sebagai kekuatan penyeimbang yang independen, kritis, sekaligus solutif.

Lebih jauh, reposisi menuntut gerakan mahasiswa untuk bertransformasi dari sekadar mobilisasi massa menjadi produsen gagasan. Di tengah kompleksitas kebijakan publik, gerakan tidak cukup hanya mengkritik, tetapi juga harus mampu menawarkan alternatif yang konkret dan terukur. Di sinilah kualitas intelektual gerakan diuji.

Akhirnya, reposisi adalah tentang keberanian untuk keluar dari zona nyaman, gerakan yang seremonial dan simbolik menuju gerakan yang strategis dan berdampak. Ia menuntut konsolidasi ideologi, integrasi isu, serta kejelasan arah perjuangan.

Jika rejuvenasi hanya berupaya memastikan gerakan tetap hidup, maka reposisi memastikan bahwa kehidupan itu memiliki tujuan. Dan dalam situasi kontemporer yang penuh kompleksitas ini, gerakan mahasiswa tidak lagi cukup hanya untuk hidup. Ia harus tahu ke mana ia berjalan, untuk siapa ia berjuang, dan bagaimana ia memenangkan pertarungan sejarahnya.

 

oleh : Ludwig Syarif Sitohang

Ketua DPC GMNI Jambi