
JAMBI — Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Jambi menyambut baik kunjungan dan silaturahmi jajaran kepemudaan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jambi ke Sekretariat GMNI Jambi. Pertemuan tersebut dinilai sebagai langkah positif dalam membuka ruang komunikasi dan pertukaran gagasan antara organisasi mahasiswa dengan kelompok kepemudaan yang berada dalam lingkungan partai politik.
Ketua DPC GMNI Jambi, Ludwig Syarif Sitohang, mengatakan bahwa kedatangan PKS Jambi ke Sekretariat GMNI merupakan bentuk keterbukaan dalam mendengar secara langsung aspirasi, kritik, gagasan, serta keresahan yang berkembang di kalangan pemuda.
“Kami menyambut baik kedatangan teman-teman PKS Jambi ke Sekretariat GMNI Jambi. Bagi kami, ini bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga merupakan bagian dari upaya jemput aspirasi pemuda dan membuka ruang pertukaran gagasan secara langsung, khususnya dengan kelompok-kelompok yang memiliki perspektif berbeda,” ujar Ludwig.
Menurutnya, pemuda tidak boleh hanya ditempatkan sebagai objek dalam berbagai kebijakan maupun agenda politik. Pemuda harus diberikan ruang yang cukup untuk menyampaikan gagasan, kritik, maupun alternatif solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Karena itu, GMNI Jambi memandang dialog lintas organisasi sebagai sesuatu yang penting untuk terus dikembangkan. Perbedaan latar belakang organisasi, pandangan politik maupun perspektif tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup ruang komunikasi.
“Kami meyakini bahwa perbedaan bukan alasan untuk berhenti berdialog. Justru karena kita berbeda, maka ruang dialog menjadi penting. Kita bisa berbeda pandangan, berbeda pilihan politik, bahkan berbeda dalam membaca persoalan, tetapi tetap dapat duduk bersama untuk membicarakan kepentingan yang lebih besar, terutama kepentingan pemuda dan masyarakat,” lanjutnya.
Ludwig menegaskan bahwa keterbukaan GMNI dalam berdialog dengan berbagai kelompok tidak berarti menghilangkan sikap kritis maupun independensi organisasi. Menurutnya, independensi justru harus dimaknai sebagai kemampuan organisasi untuk membangun relasi secara terbuka dengan siapa pun tanpa kehilangan keberanian untuk menyampaikan kritik.

“Bagi GMNI, membuka ruang dialog bukan berarti kehilangan independensi. Kami tetap memiliki sikap, prinsip dan posisi kritis terhadap berbagai persoalan. Tetapi sikap kritis tidak harus membuat kita menutup pintu komunikasi. Justru dengan dialog yang terbuka, kita dapat saling menguji gagasan dan memahami persoalan secara lebih utuh,” tegas Ludwig.
Dalam pertemuan tersebut, berbagai isu yang berkaitan dengan kepemudaan turut menjadi bahan pembicaraan, mulai dari ruang aktualisasi anak muda, pendidikan, kondisi sosial dan ekonomi, hingga dinamika politik serta tantangan generasi muda dalam kehidupan demokrasi.
GMNI Jambi menilai, diskusi semacam ini perlu diperluas dengan melibatkan lebih banyak elemen kepemudaan. Silaturahmi antara PKS Jambi dan GMNI Jambi diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun ruang dialog kepemudaan yang lebih inklusif, terbuka dan lintas organisasi.
“Kami berharap pertemuan ini tidak berhenti pada silaturahmi antara PKS dan GMNI saja. Kalau ruang dialog seperti ini dapat diperluas dengan melibatkan organisasi mahasiswa, OKP, komunitas pemuda, akademisi, maupun kelompok kepemudaan lainnya, tentu akan jauh lebih produktif. Dari sana kita bisa mempertemukan banyak perspektif dan mencari gagasan yang benar-benar relevan dengan kebutuhan pemuda Jambi,” kata Ludwig.
Menurut GMNI Jambi, demokrasi membutuhkan lebih dari sekadar kompetisi politik. Demokrasi juga membutuhkan ruang untuk saling mendengar, menguji gagasan, menerima kritik dan membangun titik temu di tengah perbedaan.
Atas dasar itu, GMNI Jambi menyatakan terbuka untuk terus membangun komunikasi dengan berbagai organisasi dan kelompok masyarakat sepanjang ruang tersebut digunakan untuk pertukaran gagasan, menyerap aspirasi, memperkuat partisipasi pemuda, serta mendorong kepentingan publik.
“Kami ingin memulai lebih banyak percakapan. Karena mungkin kita tidak selalu menemukan kesepakatan, tetapi setidaknya kita dapat menemukan pemahaman. Dan dari pemahaman itulah kolaborasi untuk kepentingan masyarakat bisa dimulai,” tutup Ludwig.










Tinggalkan Balasan